KEMBANG GENJER

KEMBANG GENJER, Bienalle Jatim 2007 / Video Instalation

Genjer-genjer

Genjer-genjer nong kedok-an pating keleler
(Genjer-genjer di pematang, berserakan)
Emak-e tole,teko-teko mBubuti genjer
(Ibunya anak-anak, datang-datang mencabuti genjer)

Oleh sak tenong mungkor sedot seng tole-tole
(Dapat sebakulLalu ngeloyor pergi dapat yang kecil-kecil)
Genjer-genjer saiki wis digowo muleh
(Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang)

Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
(Genjer-genjer pagi-pagi dijual di pasar)
Dijejer-jejer,diuntingi, podo didasar
(Dibariskan, diikat dan semua digelar)

Emak-e Jebreng podo tuku nggowo welasan
(Ibunya Jebreng pada beli membawa belasan ikat)
Genjer-genjer saiki wis arep diolah
(Genjer-genjer sekarang siap diolah)

Itulah lirik lagu genjer-genjer yang pernah dinyanyikan oleh Lilis Suryani dan Bing Slamet, kenangan pahit yang menjadi luka bangsa ketika Indonesia masih di duduki Tentara jepang pada tahun 1942 – 1945. Kehidupan rakyat Indonesia sangat parah, kelaparan dimana-mana, sawah-sawah kering tidak ada yang bisa ditanam. Sebagian dari rakyat Indonesia memodifikasi makanan pokok. Mereka beralih dari makan nasi menjadi gaplek yang terbuat dari singkong, dongkel pisang dan lain sebagainya.
Di Banyuwangi keadaan juga tidak jauh berbeda. Karena tidak bisa menanami sawah, maka tidak sengaja tumbuhlah tanaman parasit seperti eceng gondok, godong wewehan, genjer (limnocharis flava) dan lain sebagainya. Tanaman genjer ini konon katanya, jika di rebus rasanya lebih enak dari kangkung (Saya sudah merasakannya).
Kondisi tersebut membuat seniman Banyuwangi Mohammad Arief yang nantinya tergabung dalam LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat, 1960) terinspirasi untuk mendokumentasikannya dalam sebuah lagu. Pada perkembangannya lagu genjer-genjer tersebut pada masanya happening banget. Dengan lirik dan nada yang sederhana lagu ini sangat di gemari semua kalangan, Bahkan lagu genjer-genjer pernah menjadi lagu hits yang berulang kali ditayangkan oleh TVRI dan diputar di RRI (Jurnal Srinthil Vol. 3 tahun 2003).
Sama seperti pemerintah kita jadi terserang phobia genjer-genjer. Pada tahun 1965 munculnya peristiwa G 30 S/PKI membuat lagu genjer-genjer di hancurkan oleh orde baru. Segala sesuatu yang berhubungan dengan komunis harus di bumi hanguskan. Yang lebih menyudutkan lagi lagu genjer-genjer dijadikan background musik pembunuhan para jenderal di film G 30 S/PKI.
Akhirnya terciptalah stigma baru bahwa lagu genjer-genjer adalah lagu yang menyeramkan. Bahkan tidak jarang sebagian orang menilainya lagu sadis. Seketika itu pula telinga kita jadi asing, emoh untuk mendengarkannya. Apalagi jika ada orang yang mencoba menyanyikan lagu tersebut maka langsung dicap komunis dan ditangkap termasuk penyanyi beken Lilis Suryani dan Bing Slamet.
Entah apa yang salah dengan genjer-genjer sebagai sebuah produk kebudayaan? Ironis. nasib lagu Genjer-Genjer yang terbunuh dengan paksa oleh peristiwa tersebut. Lagu dengan latar belakang penjajahan Jepang malah dikambinghitamkan dengan hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan paham-paham komunis. Lagu Genjer-Genjer ini teralienasikan dari kehidupan kita.
Padahal, jika kita menikmatinya dengan bebas, bisa saja musisi kita mengeksplornya menjadi salah satu lagu daerah. Atau bahkan di arrangement ulang menjadi lagu rock, jazz, disco bahkan techno dan kita bisa berdendang dengan asyik. Mungkin istilah rehabilitasi kultural sangat cocok untuk mengeksiskan kembali lagi lagu ini tanpa tendensi apapun selain berkesenian.
Semestinya negara melalui otoritas regulasinya harus bisa menaungi seluruh produk kebudayaan yang muncul dan dikembangbiakkan oleh rakyat. Regulasi negara tidak lagi menjadi mesin pemangkas yang setiap saat menghabisi produk-produk kesenian rakyat. Oleh karena itu, negara selayaknya menaruh jarak yang sama dengan semua produk kebudayaan rakyat…

Copyright : Agoessam

Exhibition : Bienalle Jatim 2007

Video 1 : Genjer-genjer versi Bing Slamet

Video 2 : Genjer-genjer versi Lilis Suryani

Video 3 : Genjer-genjer versi Trance

———————————————

Director : Agoessam

Talent : Elisa & Ganjar

Music trance by : Budi Saputra

Singer : Bing Slamet & Lilis Suryani

Lyric : Arief Budiman (Lekra-Lembaga Kebudayaan Rakyat)

Thxs to cha

    • koesnulyakin
    • February 13th, 2012

    sepakat dengan anda

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: